Bab I Dimensi Minat Belajar PAI pada Santri di Pondok Pesantren Al-Yusufiyah Hutaholbung Kecamatan Angkola Barat



Belajar Karena Tidak Ada Orang Yang Dilahirkan Dalam Keadaan Pandai

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Minat dalam pendidikan adalah salah satu faktor yang menentukan seorang santri berhasil dalam belajar. Jika santri memiliki minat yang sesuai dengan bahan pelajaran yang dipelajari maka santri akan mempelajarinya dengan baik dan sungguh-sungguh, serta mengerahkan semua perhatian, pikiran, tenaga dan waktu untuk mempelajarinya, karena minat itu merupakan suatu rasa suka dan rasa ketertarikan pada sesuatu tanpa ada yang menyuruh. Jadi, minat pada dasarnya adalah penerimaan akan sesuatu hubungan antara diri sendiri dengan lingkungannya.
Suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih suka pada suatu hal dari pada hal lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas siswa yang memiliki minat terhadap subjek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap objek tersebut.
Dalam pandangan Islam minat merupakan suatu yang harus diteruskan pada hal-hal yang konkrit. Minat itu merupakan suatu hal yang abstrak, jika seseorang memiliki minat yang besar terhadap sesuatu namun minat itu tidak diungkapkan/dikembangkan, maka minat itu tidak ada gunanya. Pada dasarnya jika seseorang menaruh minat pada sesuatu, berarti kita menyambut baik dan bersikap positif dan berhubungan dengan objek atau lingkungan tersebut.
Begitu juga halnya dalam belajar, karena belajar adalah aktivitas yang dilakukan seseorang untuk memperoleh sesuatu perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik, dan merupakan suatu proses perkembangan intelektual maupun proses perkembangan jiwa, sikap, kecakapan, serta penyesuaian diri dengan lingkungannya.[1]Juga merupakan suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara bertingkah laku yang baru, berkat pengalaman dan latihan.[2]
Minat merupakan karunia yang terbesar yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita. Namun bukan berarti seseorang boleh berpangku tangan dan minat serta bakat itu berkembang dengan sendirinya, tetapi seseorang harus berupaya untuk mengembangkan kemampuan seseorang tersebut sehingga berkembang dengan baik. Menumbuhkan serta mengembangkan minat pada diri seseorang sangat banyak faktor yang mempengaruhinya. Namun secara umum faktor yang mempengaruhi minat belajar tersebut dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
1.         Faktor internal (faktor yang berasal dari dalam diri individu), yaitu:
a.         Faktor fisiologis
b.        Faktor psikologis
2.         Faktor eksternal (faktor yang berasal dari luar diri individu), yaitu:
a.         Faktor non-sosial
b.        Faktor sosial[3]
Semua faktor-faktor ini sangat besar peranannya dalam meningkatkan minat belajar siswa guna meningkatkan hasil belajarnya. Minat belajar yang tinggi timbul karena adanya dorongan (motivasi) dari dalam dirinya dan dari luar dirinya sehingga belajar itu dianggap suatu kesenangan. Minat santri yang baik terhadap suatu bidang pelajaran dipengaruhi oleh interaksi dengan objek sosial yang terdapat dalam proses belajar mengajar, misalnya materi pelajaran disukai, guru mempunyai gaya mengajar yang menarik, kawan sekelas menyenangkan dan tempat (kelas) yang dipakai bersih dan rapi, serta dukungan dari keluarga yang memberikan dorongan yang besar untuk belajar.
Dari beberapa penjelasan di atas minat belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor baik yang berasal dari dalam diri maupun dari luar dirinya. Karena itu faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa bisa sama bisa juga berbeda. Santri yang mempunyai latar belakang keluarga berpendidikan dan perhatian terhadap pendidikan anaknya akan mempunyai minat lebih baik terhadap belajar dibanding dengan santri yang berasal dari keluarga yang kurang peduli atau acuh tak acuh terhadap pendidikan anaknya.
Berdasarkan pengamatan penulis tampak bahwa santri yang ada di Pondok Pesantren Al-Yusufiyah Hutaholbung Kecamatan Angkola Barat ini mempunyai minat belajar yang berbeda-beda, yaitu ada yang tinggi, sedang dan ada juga yang rendah. Hal inilah yang membuat pertanyaan bagi penulis, bagaimana sebenarnya keadaan minat belajar santri di pondok pesantren ini dan faktor apa yang mempengaruhi minat belajar santri tersebut, serta apakah minat belajarnya itu dipengaruhi oleh faktor yang sama atau bahkan berbeda. Atas dasar inilah peneliti ingin mengadakan suatu penelitian dengan judul “Dimensi Minat Belajar PAI pada Santri di Pondok Pesantren Al-Yusufiyah Hutaholbung Kecamatan Angkola Barat”
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam proposal ini adalah sebagai berikut :
1.         Bagaimanakah minat belajar PAI pada santri di pondok pesantren Al-Yusufiyah Hutaholbung Kecamatan Angkola Barat?
C.      Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keadaan minat belajar PAI pada santri di pondok pesantren Al-Yusufiyah Hutaholbung Kecamatan Angkola Barat.



D.      Manfaat dan Kegunaan Penelitian
Manfaat dan kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini yaitu:
1.         Sumbangan pemikiran bagi guru-guru, masyarakat khususnya orangtua santri/siswa untuk meningkatkan minat belajar anak dalam meningkatkan mutu pendidikan khususnya di pondok pesantren Al-Yusufiyah Hutaholbung Kecamatan Angkola Barat dan lembaga pendidikan lainnya pada umumnya.
2.         Bahan perbandingan bagi peneliti lain yang ingin membahas pokok masalah yang sama.
E.       Batasan Istilah
Untuk menghindari kesalahpahaman tentang istilah yang dipakai dalam penelitian ini, maka dibuat batasan istilah sebagai berikut:
1.         Dimensi minat belajar
          Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dimensi diartikan sebagai ukuran yang meliputi panjang, luas, dan tinggi.[4] Sementara minat atau dalam bahasa Inggris disebut interest diartikan sebagai suatu kecenderungan atau keinginan untuk memberikan perhatian terhadap aktivitas situasi yang menjadi objek dengan disertai perasaan senang.[5] Kemudian, belajar merupakan suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan nilai sikap.[6] Maka, yang dimaksud dengan dimensi minat belajar adalah ukuran berupa tinggi rendahnya kecenderungan/keinginan terhadap suatu objek yang dipelajari oleh seseorang.
2.         Pendidikan Agama Islam (PAI)
          Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, bertakwa, dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya yaitu Alquran dan Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman.[7]
3.         Santri adalah peserta didik yang belajar ilmu agama Islam.
                 Berdasarkan defenisi di atas maka yang dimaksud dengan judul penelitian secara keseluruhan adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui ukuran berupa tinggi rendahnya kecenderungan/keinginan para santri dalam mempelajari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)  di Hutaholbung Kecamatan Angkola Barat.
F.                 Sistematika Pembahasan
Untuk memudahkan penulisan proposal ini dibuat sistematika pembahasan sebagai berikut :
Bab I adalah pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan dan manfaat penelitian, batasan istilah dan sistematika pembahasan.
Bab II adalah membahas tentang kajian teori yang terdiri dari landasan teori, macam-macam minat, faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar, pengertian pendidikan agama Islam, dasar-dasar pendidikan agama Islam, fungsi pendidikan agama Islam, tujuan pendidikan agama Islam, penelitian terdahulu.
Bab III adalah membahas tentang metodologi penelitian yang terdiri dari  tempat dan waktu penelitian, teknik menjamin keabsahan data, teknik analisis data, instrument pengumpulan data, jenis data dan sumber data, jenis dan metode penelitian.


[1]Imam Syah Ali Pandre, Didaktik Metodik Pendidikan Umum (Surabaya: Usaha Nasional, 1989), hlm. 47.
[2]Abdurrahman Saleh dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam (Jakarta: Kencana, 2004), hlm. 209.
[3]Sumardi Suryabrata, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), hlm. 249.
[4]Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), hlm. 329.
[5]Abdurrahman Saleh dan Muhbib Abdul Wahab, Op Cit., hlm. 263.
[6]Chalidjah Hasan, Dimensi-dimensi Psikologi Pendidikan (Surabaya: al-Ikhlas, 1994), hlm. 84.
[7]Abdul Majid, Belajar dan Pembejaran Pendidikan Agama Islam (Bandung: RemajaRosdakarya, 2014), hlm. 11.